TRIBUNKALTIM.CO - Sebuah video inspiratif memperlihatkan bakat luar biasa dari seorang atlet lari muda bernama Dava Alfrisky viral di media sosial.
Tinggal di Muara Badak, Kalimantan Timur dengan fasilitas terbatas, Dava membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghalangi bakat yang dimiliki.
Cerita bermula saat Rolan Sihombing, konten kreator kebugaran, melintasi kawasan Muara Badak, Kalimantan Timur.
Di tengah perjalanan, ia dan rombongan terkejut melihat sekelompok anak muda yang sedang berlari dengan serius di pinggir jalan raya.
Baca juga: Afnan, Davin, dan Nouval: 3 Anak Kaltim Viral Taklukkan Tantangan Lari Pace 3 dari Rolan Sihombing
"Itu ada anak-anak lari? Kok bisa? Iya ini desa loh ini.
Rasa penasaran tersebut membuat Rolan Sihombing memutuskan untuk berhenti di sebuah pelataran toko tempat anak-anak tersebut berkumpul.
Saat ditanya, nak-anak muda tersebut berlatih lari secara mandiri tanpa adanya fasilitas.
"Nggak ada tempat latihan, enggak ada pelatih," ujar sekumpulan anak muda tersebut saat ditanya mengenai kondisi latihan lari mereka.
Ketika ditanya siapa pelari tercepat di kelompok tersebut, semua kompak meneriakkan satu nama: "Dava! Dava!".
Dava, remaja berusia 16 tahun yang duduk di kelas 11 SMA, kemudian maju.
Saat ditanya mengenai catatan waktu terbaiknya untuk jarak 5 kilometer, ia menjawab, "17 menit, Bang."
Mendengar potensi besar tersebut, sang kreator video langsung memberikan tantangan (challenge) menarik kepada Dava: Jika Dava mampu berlari sejauh 5 kilometer dengan catatan waktu di bawah 17 menit, ia akan dihadiahi sepatu lari impiannya, yaitu Puma Deviate Nitro 3.
Dava pun menerima tantangan tersebut dengan percaya diri.
Sebelum tantangan dimulai, keraguan sempat muncul dari salah satu rekan karena kondisi medan yang dinilai cukup berat.
"Susah sih, tanpa pelatih itu enggak ada yang kontrol. Ini aspal, banyak kendaraan lewat, tadi aja lihat mobil-mobil sawit lewat banyak," ungkapnya meragukan target pace 3.20 yang harus dikejar.
Namun, Dava membuktikan kelasnya saat melakukan pemanasan ABC drill.
Gerakannya yang sangat rapi dan terlatih—meski tanpa pelatih—langsung menuai pujian.
Di bawah guyuran hujan gerimis dan jalanan aspal yang basah, Dava memulai larinya.
Adapun Rolan Sihombing mengiringi di sampingnya menggunakan sepeda motor untuk memantau waktu, sementara teman-teman Dava yang lain memberikan dukungan moral yang luar biasa dari atas mobil pick-up.
Di tengah peluh dan hujan, Dava sempat menceritakan perjuangan dan kegigihannya selama ini.
"Bangun subuh sebelum sekolah saya berlatih dulu, baru pergi sekolah. Pulang sekolah lagi saya berlatih lagi. Itu aja kerjaan saya, Bang.
"Pernah mengusulkan untuk menjadi atlet, tapi saya ditolak oleh kabupaten sendiri, kayak enggak dipercaya gitu," kenang Dava.
Kurangnya pelatihan formal juga sempat membuatnya khawatir akan risiko cedera karena porsi latihan yang tidak terukur.
Namun, dedikasinya yang luar biasa menghapus semua rintangan tersebut.
Hasil Akhir yang Mencengangkan
Begitu menyentuh garis finish, air mata haru dan decak kagum tidak dapat dibendung. Jam pintar (smartwatch) yang mengukur pelarian Dava menunjukkan angka yang luar biasa: Jarak 5 kilometer berhasil ditempuh dalam waktu 16 menit 42 detik dengan rata-rata pace 3.20!
"16 menit 42 detik, Pak! Anak daerah, Pak, yang enggak punya pelatih, enggak punya track lari!" seru sang kreator video dengan nada sangat emosional dan tidak percaya.
Sesuai janji, Dava langsung dihadiahi satu pasang sepatu lari baru yang disambut sorak gembira oleh teman-temannya.
Di akhir video, terselip sebuah pesan mendalam bagi perkembangan olahraga di Indonesia:
"Kita itu tidak kekurangan bibit-bibit, Bapak, Ibu. Kita punya banyak bakat-bakat alami terpendam dari anak-anak Kalimantan Timur. Tapi mereka kurang fasilitas untuk mengembangkan kemampuan dan mengembangkan potensi mereka."
Lihat video lengkapnya KLIK LINK DI SINI