TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Kepulan asap putih tebal membubung dari penggilingan tebu milik Muhajir (54) di Desa Sambijajar, Kecamatan Sumbergempol, Senin (25/5/2026) sore.
Kepulan asap tebal ini menyeberangi area persawahan di belakang lokasi hingga sampai ke permukiman warga.
Petugas pemadam kebakaran kesulitan memadamkan api, karena yang terbakar tumpukan sepah tebu kering yang dipakai bahan bakar untuk memasak gula merah.
Selain mesin penggilingan yang terbakar, ada 2 ton gula merah siap jual yang ikut terbakar.
“Api berkobar sekitar pukul 14.30 sore. Dugaan awal dari korsleting listrik,” jelas Kapolsek Sumbergempol, AKP M Anshori.
Baca juga: Pare Bhayangkara Run 2026 Baru Dibuka, 200 Peserta Langsung Daftar Ikuti Lomba
Kebakaran ini diketahui pertama oleh warga yang ada di sawah, di belakang penggilingan ini.
Mereka melihat kepulan asap dan mengecek langsung ke lokasi.
Saat itu api sudah berkobar membakar tumpukan sepah tebu kering bekas penggilingan.
“Saat itu tidak ada aktivitas di penggilingan ini. Saat pertama diketahui, api sudah berkobar besar,” sambung Anshori.
Tumpukan sepah tebu yang terbakar tingginya sekitar 5 meter, nyaris menyentuh atap.
Kobaran api membuat atap bangunan yang menaungi penggilingan ini ambruk.
Api membakar mesin penggiling dan panel listrik yang ada di lokasi.
Selain itu ada gula merah yang belum sempat diambil pembeli sebanyak 2 ton.
“Total kerugian karena kerusakan barang, kerusakan bangunan dan gula merah, sekitar Rp 200 juta,” ungkap Anshori.
Penggilingan tebu ini terakhir beroperasi pada Hari Minggu (24/5/2026) dari pagi sampai pukul 22.00 WIB.
Sebagian produksi gula sudah diambil oleh pembeli, dan masih tersisa 2 ton.
Sisa gula ini rencananya diambil hari ini, namun lebih dulu lokasi penggilingan terbakar.
“Dugaan sementara api dari korsleting listrik. Tapi nanti setelah padam akan kami pastikan lagi,” pungkasnya.
Kasi Operasional Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Tulungagung, Bambang Pidekso, mengaku mengalami kesulitan untuk memadamkan api.
Meski terlihat sederhana, kebakaran tumpukan sepah tebu kering tidak bisa sekadar disemprot air.
Meski di bagian permukaan padam, di bawah tumpukan masih ada bara api yang tersisa dan sewaktu-waktu bisa menjadi nyala baru.
“Tumpukan harus lebih dulu dibongkar, diurai sedikit demi sedikit kemudian disemprot air. Harus dipastikan tidak ada sedikit pun bara api yang tersisa,” paparnya.
Baca juga: Realisasi Subsidi Jagung Sudah 65 Ton Tahap Pertama untuk Peternak Trenggalek
Banyak warga di Kabupaten Tulungagung mempunya usaha penggilingan tebu untuk membuat gula merah.
Sepah tebu hasil penggilingan mereka tumpuk, dijadikan bahan bakar untuk memasak gula merah.
Saat musim kemarau, tumpukan sepah tebu kering ini sangat rawan menyebabkan kebakaran.
Setiap tahun selalu ada penggilingan tebu yang terbakar karena tumpukan sepah kering.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)