TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Tulungagung memiliki beragam kesenian tradisional yang unik dan sarat makna budaya.

Salah satunya adalah Reog Kendang, kesenian khas yang memadukan unsur tari, musik, dan cerita rakyat dalam satu pertunjukan yang energik.

Kesenian ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, perjuangan, dan identitas masyarakat Tulungagung.

Berawal dari Para Gemblak Pencari Jati Diri

Aksi penari Reog Kendang saat membawakan gerakan khas dengan tubuh membungkuk, menggambarkan semangat dan perjuangan dalam tradisi Tulungagung.
Aksi penari Reog Kendang saat membawakan gerakan khas dengan tubuh membungkuk, menggambarkan semangat dan perjuangan dalam tradisi Tulungagung. (Kompas.com)

Mengutip kompas.com, Reog Kendang berawal dari kisah para gemblak asal Sumoroto, Ponorogo, yang merantau ke Tulungagung pada masa kolonial Belanda.

Mereka bekerja sebagai penambang batu marmer dan petani cengkih.

Untuk menghilangkan penat, para gemblak menciptakan alat musik sederhana berupa ketipung yang hanya memiliki satu sisi untuk dipukul.

Dari aktivitas tersebut kemudian lahir kesenian yang menggabungkan musik dan tarian.

Kesenian ini awalnya dikenal sebagai “tabuhan kendang”, sebelum akhirnya berkembang dan dikolaborasikan dengan kesenian rakyat seperti jaranan atau reyog thek. 

Seiring waktu, kesenian tersebut dikenal sebagai Reog Kendang khas Tulungagung.

Baca juga: Mengenal Tari Banjar Kemuning, Tarian Khas Sidoarjo yang Gambarkan Ketegaran Istri Nelayan

Ragam Cerita dalam Reog Kendang

Dilansir dari budaya-indonesia.org, pada awalnya Reog Kendang menceritakan perjalanan para gemblak dalam mencari jati diri.

Namun, seiring perkembangan zaman, muncul berbagai versi cerita dalam pementasannya.

Salah satu versi yang populer adalah kisah kegigihan prajurit yang menempuh perjalanan dari Bantarangin menuju Kerajaan Daha sambil membawa kendang, sebagaimana dikutip dari jadesta.kemenpar.go.id.

Sementara itu, versi lain mengangkat legenda Gunung Kelud, yang menceritakan arak-arakan prajurit Kerjaan Daha mengiringi Ratu Kilisuci menuju Gunung Kelud, untuk melihat hasil pekerjaan Jathasura.

Kedua cerita tersebut menggambarkan perjuangan, pengorbanan, dan intrik dalam legenda Jawa Timur.

Baca juga: Kisah di Balik Tari Boran, Tarian Khas Lamongan yang Angkat Perjuangan Penjual Nasi Tradisional

Kendang sebagai Identitas Utama

Keunikan Reog Kendang terletak pada penggunaan kendang yang dibawa langsung oleh para penari.

Dilansir dari tribunnewswiki.com, setiap penari memainkan kendang sambil menari, sehingga menghasilkan perpaduan antara gerak dan irama yang dinamis.

Kendang yang digunakan pun beragam jenis, seperti kendang kerep, arang, imbal, hingga trinthing.

Selain itu, iringan musik tradisional seperti kenong, gong, kempul, dan selompret semakin memperkuat suasana pertunjukan.

Gerakan Khas: Dinamis dan Penuh Energi

Kostum prajurit dan tabuhan kendang menjadi ciri khas Reog Kendang Tulungagung dalam setiap pementasannya.
Kostum prajurit dan tabuhan kendang menjadi ciri khas Reog Kendang Tulungagung dalam setiap pementasannya. (kikomunal-indonesia.dgip.go.id)

Reog Kendang memiliki gerakan yang khas dan beragam.

Menurut kikomunal-indonesia.dgip.go.id, beberapa gerakan dasar dalam tarian ini antara lain gerak baris, sundangan, andul, menthokan, hingga lilingan.

Gerakan para penari cenderung energik dengan dominasi gerakan kaki, badan, dan kepala yang ekspresif.

Salah satu ciri paling mencolok adalah posisi tubuh yang membungkuk.

Sikap membungkuk ini melambangkan kepatuhan dan kesetiaan para gemblak kepada warok, sekaligus menggambarkan beratnya perjalanan yang mereka tempuh.

Baca juga: Mengenal Tari Orek-Orek Ngawi, Dari Media Sindiran & Hiburan Pekerja Rodi hingga Jadi Warisan Budaya

Representasi Prajurit Tradisional

Dalam pertunjukannya, Reog Kendang melibatkan berbagai tokoh, seperti penari kendang, penari kuda kepang, penari topeng naga, hingga tokoh warok.

Kostum yang digunakan pun mencerminkan prajurit masa lampau, dengan baju lengan panjang, kain batik, sampur, serta aksesoris seperti udeng, sumping, dan keris.

Penampilan tersebut semakin memperkuat nuansa heroik dan tradisional dalam pertunjukan.

Reog Kendang biasanya ditampilkan oleh enam penari yang masing-masing membawa kendang.

Pertunjukan diawali dengan formasi barisan, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian gerakan yang menggambarkan perjalanan dan perjuangan.

Setiap gerakan tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga mengandung makna filosofis tentang semangat hidup, kerja keras, dan kebersamaan.

Selain itu, kesenian ini juga mengandung makna kesetiaan dan kepatuhan.

Baca juga: Asal-usul dan Makna Tari Lahbako, Ikon Budaya Jember yang Angkat Peran Perempuan Petani Tembakau

Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan

Mulanya, Reog Kendang dimainkan oleh laki-laki, namun kini juga ditarikan oleh perempuan.

Perkembangan ini menunjukkan adanya adaptasi terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya.

Kesenian ini juga kerap ditampilkan dalam berbagai festival budaya dan acara adat, bahkan menjadi bagian dari identitas budaya Tulungagung.

Reog Kendang bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan sejarah dan kehidupan masyarakat.

Melalui perpaduan gerak, musik, dan cerita, kesenian ini menjadi media penyampai nilai-nilai kehidupan, seperti kerja keras, kebersamaan, dan pencarian jati diri.

Dengan pelestarian yang berkelanjutan, Reog Kendang diharapkan tetap eksis dan dikenal oleh generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Array
Baca Lebih Lanjut
Sosok Didik Purwanto Jaga Ludruk Tetap Hidup, Dari Panggung Tradisi Kini Go Digital 
Wiwit Purwanto
Jejak Perubahan Tari Tayub: Dari Kesenian Keraton hingga Pergeseran Nilai di Masyarakat
Dwi Prastika
Ludruk Jombang Beradaptasi di Tengah Derasnya Era Digital, Tantangan Bukan Hanya Soal Panggung
Ndaru Wijayanto
Pencarian jati diri jadi tantangan Kim Go Eun perankan Yu Mi
Antaranews
Tiga Laga Penentuan, Persipura Diminta Tunjukkan Jati Diri Tim Besar di Indonesia
Paul Manahara Tambunan
Ruang kesenian berkelanjutan yang kekinian di Ladang Tari Nan Jombang
Antaranews
Ribuan Pencari Kerja Padati ITB, Perusahaan Besar Ramai Buka Lowongan Management Trainee
Muhamad Syarif Abdussalam
Silaturahmi dan Sinergi Rumah BUMN Jepara, PLN UIK Tanjung Jati B Perkuat Kolaborasi UMKM Di Jepara
Abduh imanulhaq
Silaturahmi dan Sinergi Rumah BUMN Jepara, PLN UIK Tanjung Jati B Perkuat Kolaborasi UMKM di Jepara
Rifatun Nadhiroh
Berani Keluar dari Zona Nyaman, Isyana Sarasvati Ungkap Makna Eksplorasi Musik dalam Hidupnya
Gemma Ramadhina Zaneta