TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Berikut ini kisah Reki, mahasiswa Universitas Borneo Tarakan atau UBT yang kini sukses bangun usaha kopi Northman Coffee di Tarakan, Kalimantan Utara.
Di sudut halaman Kantor Pos di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Tarakan, berdiri booth yang menjual minuman kopi.
Namanya Northman Coffe.
Pengunjungnya silih berganti berdatangan.
Mereka rerata kalangan pekerja dan mahasiswa.
Ada juga pelajar.
• Cerita Nurcahaya Ningsi, Gadis Penjual Bakpao di Tanjung Selor, Bisa Raup Cuan Rp 1 Juta Sehari
Siapa sangka, pemiliknya ternyata masih berstatus mahasiswa.
Di saat banyak lulusan kampus negeri dan swasta sibuk mencari kerja, Reki, sang owner yang masih berstatus mahasiswa memilih membuka usaha.
Adalah Reki (26), mahasiswa semester akhir jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSID) Universitas Borneo Tarakan (UBT), owner dari Northman Coffee.
Reki lahir di Mansalong, 16 Februari 2000.
Mansalong adalah sebuah wilayah di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.
Lebih tepatnya, Mansalong berada di Kecamatan Lumbis, Nunukan.
Reki tak pernah membayangkan hidupnya akan berkutat dengan biji kopi, mesin espresso, dan hiruk pikuk dunia usaha.
“Dulu pengennya masuk Teknik Sipil,” tuturnya pelan, mengenang masa setelah lulus SMA tahun 2018.
Namun, takdir berkata lain.
Ia gagal menembus jurusan impiannya.
Setahun berselang, ia kembali mencoba peruntungan saat mendaftar kuliah.
Pilihan utamanya saat itu Manajemen, namun garis hidup justru membawanya ke PBSID.
“Sudah ada tiga pilihan waktu itu.
Saya ambil Manajemen, tapi lolosnya di Bahasa Indonesia,” ujarnya.
Alih-alih menyerah pada keadaan, Reki memilih menjalani apa yang sudah ditentukan.
Hingga akhirnya, di tahun 2023, sebuah pertemuan sederhana di sebuah kafe mengubah arah hidupnya.
Saat itu, ia sedang berada di fase akhir kuliah fokus pada skripsi.
Di tengah kebimbangan dan kejenuhan, datang sebuah telepon dari sosok yang sudah dianggap seperti keluarga, Marwan.
Marwan sendiri adalah rekan dari kakaknya.
Pertemuan mereka di sebuah kafe menjadi titik awal segalanya.
“Saya sempat bilang, capek dengar teman-teman bahas kopi terus.
Tapi justru dari situ Bang Marwan ajak, bagaimana kalau buka usaha kopi saja,” kenangnya.
Baca juga: Nongkrong Jadi Budaya Baru Anak Muda Tana Tidung, Lebih dari Sekadar Minum Kopi
Ajakan itu sempat membuatnya ragu.
Ia sadar betul, dirinya tak punya latar belakang di dunia kopi.
“Jujur, basic tidak ada sama sekali,” katanya.
Namun setelah semalam berpikir, ia mengambil keputusan sederhana yang kemudian mengubah hidupnya, ia mau mencoba.
“Daripada tidak ada kegiatan selain kuliah, ya sudah, jalani saja dulu,” ucapnya.
Dengan modal awal sekitar Rp20 juta, dimana 90 persen berasal dari Marwan dan sisanya dari dirinya, usaha kecil itu mulai dirintis.
Awalnya hanya berupa gerobak sederhana di kawasan Jalan Jenderal Sudirman.
Seperti kebanyakan usaha rintisan, hari-hari awalnya tak mudah.
“Pasti sepi,” ujarnya tanpa ragu.
Namun Reki percaya pada satu hal, yakni relasi.
Ia memanfaatkan jaringan pertemanan yang dimiliki sang kakak dan rekan Marwan, juga mengundang teman-temannya untuk datang, sekadar mencicipi kopi buatannya.
“Orang bilang, banyak teman banyak rezeki.
Itu yang kami jalani,” katanya.
Perlahan, usaha itu mulai menemukan jalannya.
Titik balik datang ketika ia tanpa sengaja berkenalan dengan Kepala Kantor Pos saat nongkrong santai.
Dari obrolan ringan, muncul tawaran yang tak disangka: menggunakan lahan kosong di halaman kantor pos.
“Awalnya saya tidak tahu kalau beliau Kepala Kantor Pos.
Cuma ngobrol biasa saja,” ujarnya.
Setelah melalui proses negosiasi, akhirnya Reki mendapatkan tempat strategis dengan biaya sewa sekitar Rp1,5 juta per bulan yang masuk dalam PNBP.
Sejak awal 2024, Northman Coffee resmi berpindah ke lokasi tersebut.
Dari gerobak sederhana, kini berkembang menjadi booth yang lebih tertata.
Tak berhenti di situ, perlahan usahanya berkembang.
Kini, Reki telah memiliki enam titik usaha yang tersebar di beberapa lokasi di Tarakan, mulai dari kawasan Markoni, Mulawarman, hingga Juata.
Namun di balik perkembangan itu, ada harga yang harus dibayar.
“Kalau dibilang sukses, saya belum merasa,” katanya jujur.
Ia mengakui, bisnis yang dirintisnya sempat mengganggu perjalanan kuliahnya.
Di saat teman-temannya sudah lulus, ia masih berjuang menyelesaikan studi.
“Di jurusan saya, tinggal empat orang yang belum lulus.
Salah satunya saya,” ujarnya.
Kini, ia berada di tahap akhir yakni pemberkasan menuju seminar hasil.
Ia optimistis tahun ini studinya akan rampung.
Di sisi lain, dunia kopi justru menjadi “kampus kedua” baginya.
Setiap hari adalah proses belajar.
“Kopi itu hidup.
Setiap hari selalu ada hal baru,” katanya.
Mulai dari meracik rasa, menjaga konsistensi kualitas, hingga memperbaiki mesin saat rusak, semuanya ia pelajari dari nol.
“Tangan beda, rasa bisa beda.
Itu PR kami, bagaimana rasanya tetap sama meski diracik orang berbeda,” jelasnya.
Meski harga bahan baku sempat naik, ia tetap berusaha menjaga harga agar ramah di kantong mahasiswa dan pekerja.
“Sejauh ini masih bisa menutup operasional dan kebutuhan lainnya,” katanya.
Ke depan, Reki punya mimpi lebih besar.
Ia ingin belajar kopi lebih dalam, bahkan berencana menimba ilmu ke Bali sebelum mengembangkan usahanya ke luar daerah, termasuk Kalimantan Timur.
Ia juga menyimpan keinginan membuka kafe besar, mungkin di kota seperti Samarinda, meski ia sadar persaingannya tak mudah.
“Kalau bertarung, sekalian di tempat yang besar,” ujarnya.
Di balik semua itu, Reki hanyalah anak kedua dari tiga bersaudara, yang lahir dari keluarga sederhana di Mansalong.
Kakaknya sudah berkeluarga, sementara adiknya bekerja di perbankan.
Perjalanan hidupnya mungkin tak dimulai dari rencana yang matang.
Ia bahkan sempat gagal meraih jurusan impian.
Namun justru dari kegagalan itulah, ia menemukan jalannya sendiri.
Bagi Reki, kunci memulai usaha bukan sekadar modal, tapi keberanian, modal nekat.
“Harus siap mental.
Siap rugi.
Dan yang paling penting, konsisten,” pesannya.
Di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi, Reki membuktikan bahwa usia muda bukan alasan untuk menunda langkah.
Dari secangkir kopi, ia meracik mimpi, perlahan, tapi pasti.
(*)
Penulis: Andi Pausiah