TRIBUNKALTIM.CO - Kapan musim kemarau 2026? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Jawa Tengah, akan datang lebih cepat dari biasanya, bahkan mulai April 2026.
Berdasarkan data Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, pergeseran musim tahun ini cenderung maju dibandingkan pola normal.
Hal ini membuat sejumlah daerah diprediksi lebih awal memasuki fase kering.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menyampaikan bahwa wilayah yang lebih dulu mengalami musim kemarau meliputi Kabupaten Rembang, Kepulauan Karimun Jawa, sebagian besar Pati dan Jepara, serta sebagian kecil Demak dan Blora.
Baca juga: Potensi Kekeringan IKN Nusantara di Kaltim, Kajian BRIN: 79 Persen Kawasan IKN Masih Non-Air
“Awal musim kemarau paling awal terjadi pada bulan April,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3/2026) seperti dilansir Kompas.com.
Sejumlah wilayah di Jawa Tengah diprediksi mulai mengalami musim kemarau pada April 2026, antara lain:
Sementara itu, beberapa wilayah lain diperkirakan baru memasuki musim kemarau pada pertengahan Juni 2026, yakni:
Puncak Kemarau dan Potensi El Niño
BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus 2026.
Selain itu, sifat hujan pada musim kemarau tahun ini umumnya berada di bawah normal, yang berarti kondisi akan lebih kering dibandingkan biasanya.
Saat ini kondisi iklim global masih berada pada fase netral dengan indeks ENSO sebesar -0,28.
Namun, BMKG mengingatkan adanya peluang munculnya fenomena El Niño pada awal semester II tahun 2026 yang dapat memperparah kekeringan.
Musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung cukup lama, yaitu:
Durasi ini lebih panjang sekitar 1–3 dasarian dibandingkan kondisi normal.
Baca juga: 3.428 KK Terdampak Kekeringan di Mahulu Dapat Bantuan Beras dari Pemprov Kaltim
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada saat masa pancaroba (peralihan musim).
Pada periode ini, potensi cuaca ekstrem masih bisa terjadi, seperti:
Kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan pohon tumbang.