Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Alih-alih berlari mengejar tren olahraga lari yang kian marak, sekelompok anak muda di Bandung justru menemukan cara yang lebih sederhana dengan berjalan kaki.

Aktivitas yang terkesan santai itu, lahir ajang pertemanan baru bernama Not So Morning Club. 

Komunitas ini digagas oleh Hendro Lois bersama dua rekannya. Ide awalnya lahir dari pengalaman personal yang sederhana bahkan cenderung spontan. 

“Awalnya aku sama teman bertiga, habis sedikit patah hati gitu. Terus kepikiran, daripada cuma ngumpul, energinya kita ubah jadi bikin komunitas yang fun,” ujarnya, saat dihubungi Tribunjabar.id, belum lama ini. 

Dikatakannya, berjalan kaki dipilih sebagai medium yang paling ringan diantara pilihan aktivitas lain. 

Bagi Hendro, jalan kaki punya kelebihan yang tak dimiliki olahraga lain, bisa dilakukan siapa saja, tanpa tekanan.

“Dengan jalan kita bisa tetap bergerak, tapi santai. Bisa ngobrol, ketemu teman baru, dan pelan-pelan mulai gaya hidup sehat,” katanya.

Rute awal mereka pun tak jauh-jauh dari ruang terbuka hijau di Bandung, mulai dari kawasan Babakan Siliwangi, Ciumbuleuit, hingga Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda. 

Hendro menuturkan, saat mulai terbentuk, berbagai kegiatan hanya didokumentasikan untuk lingkaran pertemanan sendiri lewat media sosial. Namun tak disangka, unggahan tersebut justru menarik perhatian lebih luas.

“Awalnya di-up cuma buat aku dan teman-teman aja. Tapi sekitar bulan Juli tahun lalu sempat viral dan banyak yang ikutan,” tutur Hendro.

Sejak itu, Not So Morning Club berkembang menjadi ruang pertemuan bagi banyak orang terutama mereka yang datang sendiri tanpa teman.

“Memang ingin bikin tempat buat orang-orang yang mungkin enggak punya teman jalan. Jadi mereka bisa ketemu circle baru di sini,” ujarnya.

Berbeda dari komunitas olahraga yang cenderung intens, konsep yang ditawarkan Not So Morning Club justru santai. 

Jalan kaki, kata dia, dilakukan saat akhir pekan, biasanya dimulai sekitar pukul 07.30 pagi tidak terlalu pagi, sesuai dengan namanya yang “not so morning”. 

Dalam satu sesi, peserta menempuh jarak sekitar 5 kilometer pulang-pergi, dengan durasi kurang lebih satu setengah jam.

“Pernah kita coba sampai 8 kilometer, tapi ternyata terlalu jauh buat sebagian peserta. Jadi sekarang rata-rata 5 kilometer aja, yang penting bisa menikmati Bandung dan ketemu teman,” kata Hendro.

Rutenya pun variatif, tak hanya menyusuri jalan utama. Komunitas ini kerap mengeksplorasi gang-gang kecil lewat sesi bertajuk semerbak Bandung, hingga berjalan santai di tengah kota dalam sesi morning stroll. Bahkan, ada pula kegiatan lain seperti Not So Hiking, workshop, hingga eksplorasi kuliner.

“Bandung kan kota kuliner juga, jadi kita wadahi teman-teman buat jajan dan share pengalaman mereka,” ujarnya.

Hendro mengatakan, dalam sekali kegiatan, jumlah peserta bisa mencapai lebih dari 50 orang, bahkan pernah menyentuh angka 100 termasuk panitia. 

Menariknya, tak sedikit peserta yang datang dari luar kota seperti Cikarang dan Purwakarta hanya untuk ikut berjalan bersama komunitas ini. 

“Mereka datang ke Bandung memang cuma buat ikut ini. Jujur saya sendiri terharu,” kata Hendro.

Meski terbuka untuk semua kalangan, Hendro mengakui mayoritas pesertanya berasal dari generasi muda.

Kendati demikian, ia menegaskan, komunitas ini bersifat inklusif.

“Kita welcome semua orang, dari background apa pun. Enggak eksklusif,” ujarnya. 

Ke depan, Hendro berharap komunitas ini tetap menjadi ruang aman bagi siapa saja yang ingin memulai baik itu memulai hidup sehat, maupun sekadar membuka pertemanan baru. 

“Harapannya, Not So Morning bisa terus jadi tempat orang bertemu dan bersosialisasi lewat jalan kaki,” kata Hendro. 

Ruang Jalan Kaki di Bandung Perlu Perhatian Serius

BANYAK trotoar di Bandung masih sempit, rusak, atau tidak nyaman untuk pejalan kaki, meski kota ini dikenal sebagai destinasi wisata.

Hal itu juga dirasakan Hendro Lois, penggagas komunitas Not So Morning Club. 

Pengalamannya rutin berjalan kaki menyusuri berbagai sudut kota, ia menilai fasilitas pedestrian di Bandung masih jauh dari kata ideal. 

“Bahkan di tengah kota pun masih banyak yang belum layak. Harapannya ke depan bisa lebih diperhatikan,” ujarnya.

Menurutnya, ruang jalan kaki yang aman dan nyaman seharusnya menjadi bagian penting dari wajah kota. 

Bukan sekadar pelengkap, tapi kebutuhan. Apalagi Bandung dikenal sebagai destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Namun, kondisi di lapangan belum sepenuhnya mendukung. 

“Bandung itu destinasi wisata, tapi belum difasilitasi dengan baik untuk pejalan kaki,” kata Hendro.

Dia menjelaskan, persoalan pedestrian tak hanya soal fisik jalan, tetapi juga soal rasa aman. Trotoar yang dipadati pedagang, dilintasi kendaraan roda dua, hingga sisa proyek yang tak kunjung dirapikan membuat pengalaman berjalan kaki menjadi kurang nyaman. 

Padahal, lanjut dia, berjalan kaki perlahan mulai dilirik sebagai gaya hidup sehat yang mudah dan inklusif. (*) 

Array
Baca Lebih Lanjut
Bukan Sekadar Posko! Bale Santai Honda di Cirebon Jadi Surga Pemudik, Bisa Rebahan dan Servis Gratis
Taufik ismail
Ngantuk di Pantura? Mampir Sini! Bale Santai Honda Cirebon Jadi ‘Oase’ Pemudik Bermotor
Taufik ismail
5 Destinasi Wisata di Bogor Bikin Betah dan Adem, Kunjungi saat Libur Lebaran
Sartika Rizki Fadilah
Bukan Sekadar Posko! Bale Santai Honda di Cirebon ‘Surga’ Pemudik, Bisa Rebahan hingga Servis Gratis
Ravianto
Gentong Macet Parah Malam Ini! Antrean Kendaraan Tasikmalaya Menuju Bandung Mengular 20 Kilometer
Ravianto
Lirik dan Terjemahan Lagu A Sorrowful Reunion - Reality Club
Joko Widiyarso
Rekomendasi 5 Tempat Wisata Ramah Anak di Bandung untuk Habiskan Libur Lebaran 2026
Rheina Sukmawati
Lirik dan Terjemahan Lagu Am I Bothering You - Reality Club
Joko Widiyarso
10 Tempat Beli Oleh-oleh Mudik Lebaran 2026 di Kota Bandung, yang Legendaris hingga Viral
Rheina Sukmawati
Lampu BBM Menyala, Mobil Masih Bisa Jalan Berapa Kilometer? Ini Penjelasannya
Mursal Ismail