TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pada 22 tahun lalu tepatnya tanggal 8 Oktober 2003 terjadi kecelakaan mengerikan di jalan utama di dekat PLTU Paiton, Banyuglugur, Situbondo, Jawa Timur
Sebuah bus yang mengangkut rombongan murid dan guru mengalami kecelakaan mengerikan di kawasan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, usai bertabrakan dengan kendaraan berat dan terbakar hebat.
Insiden tragis tersebut merenggut 57 nyawa, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan mengguncang nurani publik nasional.
Baca juga: Aktor Kondang Tewas Diduga Depresi hingga Overdosis, Nyawa Melayang saat Kariernya Bersinar Terang
Tanggal 8 Oktober 2003 menjadi saksi bisu salah satu sejarah kelam kecelakaan bus paling parah di Indonesia.
Malam itu, jalan utama di dekat PLTU Paiton, Banyuglugur, Situbondo, Jawa Timur berubah menjadi mimpi buruk bagi rombongan penumpang asal SMK Yayasan Pembina Generasi Muda (Yapemda), Sleman, Yogyakarta.
Sebuah bus yang mengangkut puluhan siswa dan guru tersebut tiba-tiba mengalami kecelakaan maut dan merenggut 54 nyawa siswa dan guru sekolah setempat.
Berikut kilas balik peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Paiton tersebut.
Ratusan siswa SMK Yapemda, Sleman, Yogyakarta tak pernah menyangka malam itu akan menjadi momen kelam bagi mereka.
Mereka baru melakukan darmawisata ke Bali menggunakan tiga bus AO Transport. Kegiatan darmawisata tersebut sudah menjadi agenda tahunan dan biasanya berjalan lancar.
Namun, sekembalinya dari Bali menuju Sleman, bus pariwisata itu mengalami kecelakaan ketika tiba di kawasan PLTU Paiton, pada Rabu (8/10/2003) malam.
Namun, sebuah truk kontainer tiba-tiba memotong jalur dan menabrak bagian depan bus. Insiden itu diperparah dengan truk tronton dari arah belakang yang mendadak menabrak bus AO Transport.
Akibatnya, bus yang membawa rombongan siswa dan guru SMK Yapemda itu terjepit di antara dua truk.
Dalam kondisi terhimpit di antara dua truk, bus AO Transport tiba-tiba terbakar.
Sementara percikan api muncul dari bagian depan bus yang ditabrak. Hal tersebut membuat penumpang panik dan berlarian ke bagian belakang bus.
Puluhan siswa dan guru SMK Yapemda itu berusaha menyelamatkan diri dengan mencoba keluar dari pintu belakang bus.
Namun, pintu belakang bus itu macet karena tertabrak truk tronton. Sedangkan alat pemecah kaca di dalam bus, yang kini menjadi standar keselamatan transportasi publik, saat itu belum tersedia.
Akibatnya, banyak penumpang yang terjebak di dalam bus dan ditemukan meninggal dalam kondisi terbakar.
Kebakaran bus itu disebut terjadi begitu cepat karena material di dalam bus yang mudah terbakar, seperti tas serta karpet pelapis lantai dan kursi.
Hampir semua penumpang di dalam bus AO Transport itu meninggal dunia akibat kecelakaan maut tersebut.
Korban selamat hanya sopir bus, Arwan dan kernet bus, Budi Santoso. Arwan berhasil selamat setelah melompat dari bus, sedangkan Budi memecah kaca pintu depan. Budi selamat meski harus menderita luka bakar.
Sementara 57 orang yang terdiri atas 54 siswa, 2 guru, dan 1 pemandu wisata meninggal dunia.
Sempat beredar kabar bahwa keduanya melarikan diri setelah insiden terjadi. Namun, pihak perusahaan otobus membantah tuduhan tersebut.
Menurut perusahaan otobus, sopir dan kernet itu justru ikut membantu mengeluarkan penumpang.
Ironisnya, dua bus lain yang membawa rombongan SMK Yapemda tidak mengadari bahwa satu bus mengalami kecelakaan.
Mengingat minimnya alat komunikasi seperti ponsel yang belum jamak seperti saat ini, rombongan di dua bus itu baru mengetahui informasi kecelakaan ketika tiba di Sleman, Yogyakarta.
Saat si jago merah melalap bus dan penumpang di dalamnya, banyak warga sekitar yang hanya bisa melihat kejadian tersebut.
Menurut kesaksian warga di lokasi kejadian, letupan-letupan api dan kobaran api saling timbul tenggelam, sehingga warga sulit membantu evakuasi para korban.
Mereka pasrah menanti petugas pemadam kebakaran datang untuk membantu memadamkan api. Setelah api padam, petugas dan menemukan banyak korban tewas di bagian belakang bus, tepatnya di dekat pintu.
Diduga para penumpang itu berusaha membuka pintu yang macet setelah ditabrak truk di bagian belakang.
Para korban kemudian dilarikan ke RSUD Situbondo. Namun, lantaran banyaknya jumlah korban yang meninggal, pihak rumah sakit terpaksa mengawetkan jenazah menggunakan balok es agar korban tetap awet sebelum dimakamkan di Yogyakarta.
Puluhan jenazah itu ditempatkan di lorong karena ruang kamar mayat yang ada tak mencukupi.
Tragedi Paiton menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, terutama dalam hal keselamatan transportasi. Semoga peristiwa ini tidak terulang kembali dan menjadi pengingat untuk selalu memprioritaskan keselamatan penumpan.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)