Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Kekecewaan mendalam menyelimuti para pelaku industri kreatif menyusul gagalnya konser 'Party From Selatan' yang seharusnya digelar di Kota Jayapura, Papua.
Koordinator Talent Papua Selatan (Papael) Hasrul Sani alias Sultantigabelas, menegaskan segera membawa kasus ini ke jalur hukum lantaran pihak manajemen penyelenggara, Salveldra Management, diduga melarikan diri.
Awal Januari 2026 menjadi titik mula petaka ini.
Pihak Saveldra Management datang ke Merauke dengan visi besar membawa talenta-talenta terbaik Papua Selatan ke panggung Jayapura.
Hasrul Sani menyambut hangat gagasan tersebut.
Baca juga: Dewan Kesenian Papua Tengah Berupaya Hidupkan Musik Akustik yang Mulai Hilang
Namun, mendekati hari pelaksanaan, jadwal konser yang semula ditetapkan 31 Januari 2026 digeser paksa ke 7 Februari 2026.
Sejak saat itu, komunikasi mulai tersendat.
"Mendekati hari H manajemen selalu menghindar. Saya menduga niat awal memang tidak ingin menjalankan event," ungkap Hasrul dengan nada kecewa saat memberi keterangan kepada Tribun-Papua.com, Selasa (10/2/2026) di Taman Imbi, Kota Jayapura.
Kerugian tidak hanya diderita oleh Hasrul.
Manager Sonya Bara dan Twenty Four Dom, Stanislaus Felendity menyebut para artis mengalami kerugian karir karena telah membatalkan jadwal di lokasi lain demi mengikuti agenda Salveldra Management yang ternyata fiktif.
"Kegiatan utama karena acara lain kami batalkan, disisi lain flayer dan video yang sudah tersebar ini mengganggu karir," kata Stanislaus
Nama Baik Tercoreng
Koordinator Papsel Hasrul Sani mengatakan, batalnya konser ini membuat dirinya terpaksa berangkat ke Kota Jayapura pada 7 Februari 2026.
Ia mengecek langsung lokasi konser yang di rencakan di gelar di PTC Entrop.
Namun nyatanya tidak ada satupun tiang panggung yang berdiri. Ia hanya mendapati lokasi tersebut kosong tanpa persiapan apapun.
"Saya ke Jayapura untuk membersihkan nama kami karena ada isu yang berkembang even ini dibuat oleh anak-anak dari Papua Selatan padahal kami hanya talent. Saya harap masyarakat bisa menilai situasi yang terjadi," tegasnya.
Hilangnya Kepercayaan Publik
Badan Pengurus Numbay Creative Forum Yosep Eko Tripurwanto, mengungkap dengan dibatalkannya konser ini maka seni pertunjukkan dan musik yang merupakan industri yang susah payah dibangun di Kota Jayapura berimbas pada ketidakpercayaan masyarakat.
Sebelumnya, Eko Tripurwanto berupaya melakukan mediasi bersama para talent, even organizer dan pihak penyelenggara.
Namun, pada waktu itu pihak Salvendra Management tidak hadir.
"Kerugian kami EO dan talent. Imbasnya ke kami membangun sebuah kepercayaan ke publik itu dari awal. Talen dirugikan secara industri imbasnya kemana-mana," ujarnya.
Tiket Hangus Sebagai Bukti Lapor ke Polda Papua
Sonya Bara dan Twenty Four Dom, talent Papsel, dan Numbay Creative Forum tengah mengupayakan untuk melaporkan kasus ini ke Polda Papua tetapi masih belum cukup bukti.
Baca juga: VIRAL Bocah SD Asal Papua Jadi Dosen Ajari Materi Kalkulus di Kampus, Elon Musk Sampai Kagum
Mereka pun membuat group di aplikasi WhatsApp untuk menjaring penggemar (fans) yang telah membeli tiket supaya mengirimkan bukti transaksi pembelian tiket.
Hingga saat ini telah terkumpul kurang lebih 200 orang yang telah membeli tiket dengan jumlah nilai sebesar Rp 13 juta lebih.
Banyak pembeli tiket diketahui berasal dari luar kota seperti Timika, Nabire, hingga Manokwari.
Bukti transfer langsung tersebut akan dijadikan barang bukti utama di Polda Papua. Mereka juga berupaya menggandeng advokat untuk mengawal kasus ini.
"Kepolisian bilang masih kurang kuat buktinya, jadi kami sedang berupaya mengumpulkan pembeli tiket untuk membuat laporan supaya Savel bisa diproses. Sejumlah barang bukti kami kumpulkan misalnya bukti pembelian tiket yang ditransfer langsung ke rekening Savel," ujar Eko Tripurwanto. (*)