Laporan Wartawan Tribun Papua, Yulianus Magai

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Dari sebuah dapur kecil di sudut Kota Jayapura, aroma sagu yang dipanggang perlahan menyeruak hidung. 

Di atas meja sederhana, kukis berwarna cokelat keemasan tersusun rapi dalam kemasan modern. Tak banyak yang menyangka, camilan (cemilan) renyah itu berasal dari bahan pangan tradisional Papua: Sagu.

Baca juga: Apresiasi untuk Colo Sagu, Upaya Menghadirkan Wajah Kota Jayapura yang Humanis

Di ruang berukuran sekitar 3x3 meter nan sederhana itulah, Astia Mulyawati memulai langkahnya. Langkah kecil tapi nyata. 

Apalagi perempuan perantau asal Provinsi Jawa Barat ini sebelumnya hanyalah seorang ibu rumah tangga. 

Tanpa keluarga dekat di Jayapura, ia memilih bertahan dengan satu pegangan prinsip: tidak menyerah dan selalu berpikir positif.

Lewat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Basyira Kukis, Astia mengolah sagu menjadi Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu. 

Ini adalah camilan modern yang kini dipasarkan di supermarket, bandara, hingga dibawa ke pameran nasional dan internasional.

“Saya awalnya hanya ibu rumah tangga. Bikin kue kering kalau hari raya saja. Tapi saya melihat oleh-oleh khas Papua yang benar-benar lokal dan dikemas modern masih sangat sedikit,” ujar Astia kepada Tribun Papua, Minggu (8/2/2026). 

Baca juga: Jayapura Tempo Dulu, Jurnalis Senior Papua Wolas Krenak Merawat Ingatan Kota Lewat Colo Sagu

Saat itu, Tribun-Papua.com menemui Astia Mulyawati di kedai miliknya, yang berada di Kotaraja, Kota Jayapura, Provinsi Papua. 

Di Papua, sagu tersedia melimpah. Namun pemanfaatannya masih terbatas pada konsumsi tradisional seperti papeda. Bahkan, tidak sedikit sagu yang terbuang karena tidak terserap pasar.

Kondisi ini mendorong Astia Mulyawati untuk melihat sagu sebagai aset pangan lokal yang dapat diolah secara berkelanjutan.

Baca juga: Colo Sagu Jadi Ruang Cerita Sejarah Kota Jayapura

“Saya lihat banyak sagu, tapi belum dimanfaatkan maksimal.

Padahal kalau diolah dan dikemas dengan baik, sagu bisa memiliki nilai ekonomi tinggi,” katanya.

Sejak 2021, Astia Mulyawati mulai bereksperimen. Prosesnya tidak mudah. Karakter sagu yang bebas gluten membuat adonan sulit dibentuk. 

Namun, ia terus mencoba hingga menemukan komposisi yang tepat, memadukan sagu dengan tepung keladi olahan sendiri serta kenari yang akrab dengan lidah masyarakat timur Indonesia.

Baca juga: Sentuhan Modern Astia Mulyawati: Mengubah Wajah Sagu Papua Jadi Camilan Dunia

Fokus produksi mulai dilakukan pada 2023–2024. Bahan baku sagu diambil langsung dari masyarakat secara tradisional di Sentani, Kabupaten Jayapura, sehingga memberikan pasar tetap bagi petani lokal.

Kesempatan besar datang pada 2024, saat Basyira Kukis diikutkan dalam pameran nasional di Sarinah, Jakarta.

“Produk biscotti sagu langsung habis terjual. Banyak pembeli dari luar negeri penasaran karena biasanya biscotti dibuat dari tepung terigu. Ini hal baru bagi mereka,” jelas Astia.

Baca juga: UMKM Sagu dan Kerajinan Lokal Warnai Festival Media se-Tanah Papua di Nabire

Sejak itu, produk Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh, supermarket, bandara, serta melalui platform daring. Pesanan datang dari Jayapura, Nabire, Mimika, hingga Jakarta.

Pada 2025, produk ini bahkan dibawa ke Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) serta pameran dagang di Hamburg, Jerman

Bagi Astia Mulyawati, usaha yang dirintisnya bukan sekadar soal bisnis. Ia berkomitmen membeli sagu langsung dari masyarakat kampung, sehingga petani memperoleh penghasilan berkelanjutan.

Baca juga: Jangan Biarkan Sagu Berganti Sawit: Refleksi Hari Sejuta Pohon di Tanah Papua

“Kalau saya ambil langsung dari mereka, petani senang karena ada pembeli rutin. Usaha saya jalan, mereka juga dapat penghasilan,” ujarnya.

Meski produknya mulai dikenal luas, tantangan tetap ada. Biaya distribusi dari Papua relatif tinggi, proses sertifikasi pangan dan ekspor juga membutuhkan pendampingan. Namun Astia memilih tetap optimistis.

“Saya percaya kalau kita mau belajar dan tidak menyerah, pasti ada jalan. Yang penting konsisten,” katanya.

Baca juga: Pakar BRIN Kritik Food Estate Papua: Jangan Korbankan Ekosistem Sagu demi Ketahanan Pangan Nasional

Ke depan, Astia Mulyawati berharap sagu tidak lagi dipandang sebagai pangan tradisional semata, tetapi sebagai identitas Papua yang mampu bersaing di pasar global.

“Saya ingin orang luar kalau dengar Papua, ingat sagu. Karena sagu bukan hanya makanan, tapi jati diri,” ucapnya.

Bagi perempuan perantau asal Jawa Barat itu, sagu bukan sekadar bahan pangan tradisional, melainkan potensi masa depan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal dan memperkenalkan identitas Papua ke panggung global.

Baca juga: Satgas Keladi Sagu Berikan Akses Kesehatan Gratis di Wilayah Yalimo

"Sagu ini bukan hanya warisan leluhur yang harus dikenang, tapi masa depan yang harus kita hidupkan,” ujar Astia menutup pembicaraan.

Ini Merupakan Tulisan final setelah Tribun-Papua.com masuk dalam 10 finalis dalam Kompetisi Karya Tulis Jurnalistik: “Akselerasi SDGs 2030” Penyelenggara: SDG Academy Indonesia (Kementerian PPN/Bappenas)Didukung: Tanoto Foundation Mitra Implementasi: KGMedia Lestari.

Baca Lebih Lanjut
Ampo, Camilan Unik Berbahan Dasar Tanah Liat dari Tuban
Tradisi Barapen Sambut Pelantikan Pengurus K2BPT Papua Barat di Manokwari
Hans Arnold Kapisa
Cerita Joshua Bonlay Merawat Identitas NTT di Tanah Rantau Melalui Konten di Media Sosial
Hilarius Ninu
Resep Mie Sagu Khas Riau, Cocok Untuk Menu Buka Puasa Ramadhan 2026
Cara Membuat Kue Cubit Tabur Cokelat, Camilan Lembut di Hari Libur
Konten Grid
Derby Papua di Wamena: Persipura vs Persiwa, Nostalgia Panas dari Liga Super hingga Pegunungan
Paul Manahara Tambunan
Dapur SPPG Bersertifikat SLHS di Bondowoso Bertambah Jadi 25 Unit
Bukit Baruga Tawarkan Hunian Modern dan Berkelanjutan, Tanda Jadi Mulai Rp10 Juta
Harga Kebutuhan Dapur di Pasar Thumburuni Fakfak Stabil Menjelang Ramadan
Profil Timnas Uruguay di Piala Dunia 2026, Negara Kecil yang Sudah 2 Kali Angkat Trofi
Briandena Silvania Sestiani