TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Nama buaya Riska mungkin sudah tidak asing di telinga masyarakat Kalimantan Timur, terkhusus Kota Bontang.
Buaya Riska mulai ramai menjadi perbincangan pada tahun 2020 silam.
Hubungannya dengan salah satu warga di Muara Sungai Guntung, Bontang bernama Ambo menarik banyak perhatian publik.
Buaya muara dengan panjang hampir 5 meter tersebut telah dirawat Ambo seperti anaknya sendiri selama 26 tahun di habitat alaminya.
Namun pada tahun 2023, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim mengevakuasi buaya Riska dengan alasan membahayakan.
Baca juga: Kisah Pak Ambo dan Buaya Riska Bakal Jadi Film, Kilas Balik Persahabatan di Sungai Guntung Bontang
Dengan begitu, Ambo tidak lagi dapat merawat buaya yang sudah dia anggap sebagai anaknya.
Kisah hubungan unik antara Riska dengan Ambo kini bukan lagi sebatas cerita lama.
Tim produksi KAWALAND FILM resmi mengumumkan tengah menggarap proyek besar untuk mengangkat kisah itu ke layar lebar dengan judul "Ambo Riska".
Director, Writer and Actor Film Ambo Riska, Fatqurozi menjelaskan ide untuk mengangkat kisah ini berawal dari kegiatan tim yang aktif di industri film pendek sejak 2012.
"Dari perjalanan itu melihat kemampuan teman-teman kayaknya memang sudah saatnya untuk langkah lebih besar lagi, lebih panjang lagi," ujarnya melalui sambungan telepon kepada Tribunkaltim.co, Rabu (28/1/2026).
Dirinya mengakui, terdapat banyak perbedaan antara Industri film layar lebar dengan industri film pendek yang biasa digarap bersama teman-temannya.
Pihaknya memahami bahwa memproduksi film cerita tidak hanya sekadar menyampaikan cerita idealis atau kegelisahan semata tetapi juga harus sederhana sehingga mudah diterima oleh masyarakat luas.
Fatqurozi menambahkan, pilihan mengambil kisah Ambo dan Riska bukan tanpa alasan. Selain sudah viral dan dikenal luas, cerita ini dinilai memiliki kekuatan konten dan daya tariknya tersendiri.
"Kenapa sampai melihat ke Bontang, karena memang secara konten, secara item, dia memang sudah viral juga, dan sudah terkenal, dan semua orang sudah tahu, bahkan sampai ke luar negeri juga sudah tahu," jelasnya.
Lanjut dia, film ini juga akan memuat isu lingkungan yang selama ini kerap menjadi perhatian dalam karya-karyanya.
Keberadaan ekosistem mangrove di Bontang turut menjadi latar penting yang memperkuat pesan cerita.
Lebih dari sekadar drama persahabatan, film Ambo Riska juga mengangkat kepercayaan tradisional masyarakat Bugis tentang mitologi saudara kembar tak kasatmata, yang dikenal sebagai saule atau saukang.
Dalam kepercayaan ini, setiap manusia dipercaya memiliki “kembaran” nonmanusia, yang bisa berwujud roh, benda, atau hewan.
Bagi sebagian masyarakat Bugis yang hidup di wilayah sungai dan rawa, buaya diyakini sebagai saudara kembar manusia.
"Memang ini adalah hubungan yang unik menurut saya dan sakral, ada sesuatu gitu. Jadi genrenya ini drama misteri, perjalanan kisah persahabatan yang terpisahkan sampai sekarang, lantas tidak semua orang bisa melakukan hal yang sama, alasan apa yang di balik dari hubungan yang spesial ini," kata Fatqurozi.
Proyek film ini telah berproses sejak 2023, dimulai dari pematangan ide, pemetaan kemampuan produksi, hingga penguatan konsep cerita.
Pada 2025, tim masuk ke tahap developer market dan menjalin kerja sama melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan pihak pemilik kisah.
"Masuk di bulan awal Januari 2026 ini, kami pematangan cerita, development cerita lagi, lalu pencarian dana dan segala macam, investor dan segala macam, perizinan dan segala macam," sebutnya.
Sasaran penayangan film ini tak hanya di bioskop, tetapi juga diarahkan ke berbagai festival film.
Tim juga berencana melakukan audiensi dengan Gubernur Kalimantan Timur serta dinas pariwisata provinsi dan Kota Bontang untuk memperkuat dukungan promosi daerah.
Baca juga: Masih Ingat Persahabatan Buaya Riska dan Pak Ambo di Bontang Kaltim? Kisahnya akan Dijadikan Film
Pada Maret mendatang, produksi teaser berdurasi tiga hingga empat menit dijadwalkan dimulai.
"Kalau produksinya mungkin di akhir tahun ini, kalau pun itu memang tercover secara pembiayaan. Makanya timeline-nya tayangnya di 2027," pungkasnya.(*)