SURYA.co.id - Nama Grojogan Sewu, destinasi wisata alam yang selama puluhan tahun identik dengan kesejukan lereng Gunung Lawu, mendadak menjadi bahan perbincangan panas di ruang digital.
Bukan karena panorama air terjunnya, melainkan oleh kabar harga makanan yang disebut-sebut “tak masuk akal”.
Isu tersebut beredar cepat di media sosial, bermula dari unggahan warganet di Facebook yang kemudian menyebar ke Instagram.
Dalam waktu singkat, narasi itu membentuk persepsi baru: Grojogan Sewu disebut sepi, pengunjung berkurang, dan harga makanan melonjak hingga ratusan ribu rupiah.
Bagi calon wisatawan yang hanya mengandalkan linimasa media sosial sebagai rujukan, kabar semacam ini cukup untuk membatalkan rencana perjalanan.
Namun, pengelola memastikan cerita yang berkembang di dunia maya tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan.
Salah satu klaim yang paling menyedot perhatian publik adalah tudingan harga makanan yang mencapai Rp200 ribu per porsi.
Angka tersebut berulang kali disebut dalam unggahan warganet dan kemudian dikaitkan dengan isu sepinya pengunjung selama libur Natal dan Tahun Baru.
Narasi ini menyebar tanpa konteks yang jelas, tetapi efeknya nyata, yakni keraguan, keresahan, dan komentar bernada negatif bermunculan, seolah-olah Grojogan Sewu tengah ditinggalkan wisatawan.
Di sinilah perbedaan antara cerita digital dan data lapangan mulai terlihat.

Direktur PT Duta Indonesia Jaya selaku pengelola TWA Grojogan Sewu, Sukirdi, menegaskan bahwa kondisi yang digambarkan warganet tidak sepenuhnya benar.
“Tingkat kunjungan wisatawan di sini lumayan ramai, namun tidak seramai sebelum Covid-19,” kata Sukirdi, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, wisatawan yang datang selama libur Natal dan Tahun Baru berasal dari berbagai daerah di luar Karanganyar.
Bahkan, pada Minggu (4/1/2026), jumlah pengunjung tercatat sekitar 2.000 orang.
“Sehingga isu sepinya Grojogan Sewu saat libur Nataru saat ini tidak benar,” ujarnya.
Angka tersebut menjadi penanda bahwa kesan “wisata sepi” lebih banyak terbentuk dari percakapan daring ketimbang realitas kunjungan.
Soal tudingan harga makanan yang melambung, Sukirdi menyebut informasi tersebut tidak sesuai fakta.
Ia memastikan seluruh pedagang di kawasan Grojogan Sewu menerapkan daftar harga resmi yang disepakati bersama.
“Beredar di media sosial bahwa harga bakmi di Grojogan Sewu sampai Rp200 ribu, itu tidak benar. Bahkan yang komplain justru pedagang karena mencari orang yang menyampaikan isu tersebut,” ujarnya.
Pengelola pun membeberkan kisaran harga makanan dan minuman yang berlaku di lokasi wisata, antara lain:
Menurut Sukirdi, perubahan harga tidak bisa dilakukan sepihak. Setiap usulan kenaikan harus melalui musyawarah dan persetujuan pengelola.
“Kalau mau menaikkan harga, misalnya Rp100 sampai Rp200, itu harus melalui musyawarah terlebih dahulu. Setelah disepakati baru memberikan informasi ke kami sebagai pihak pengelola. Jadi isu-isu itu tidak benar,” tegasnya.
Kasus Grojogan Sewu menjadi contoh bagaimana satu unggahan di media sosial dapat membentuk persepsi kolektif, bahkan sebelum fakta diverifikasi.
Di era digital, citra sebuah destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh narasi yang beredar di linimasa.
Bagi pengelola, klarifikasi menjadi penting bukan hanya untuk meluruskan informasi, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik terhadap ruang wisata yang hidup dari kunjungan dan reputasi.
Di kasus sebelumnya, viral di media sosial curhatan seorang wisatawan kena getok harga makanan di sebuah rumah makan di Telaga Sarangan, Magetan.
Wisatawan tersebut mengeluhkan harga makanan yang tak wajar, yakni Rp 225 ribu untuk tiga porsi nasi goreng, satu porsi capcay, tiga es jeruk, dan satu es teh.
"Hati-hati makan di warung Telaga Sarangan karena harganya mahal dan tidak wajar," demikian tertulis dalam unggahan tersebut.
Wisatawan bernama Bagus Aldivo yang merupakan warga Blitar, Jawa Timur.
Bagus Aldivo mengaku, peristiwa ini terjadi pada Jumat (31/5/2024), saat ia berkunjung ke Telaga Sarangan bersama dua rekannya.
Kemudian mereka membeli makanan di sebuah tempat makan.
"Ternyata itu rumah makan yang sempat viral, saya enggak mau nyebut rumah makannya karena nggepuk (memberi harga mahal) pembeli.
Awalnya saya tidak tahu kalau itu rumah makan yang sempat viral," jelasnya, melansir dari Kompas.com.
Yang Bagus Aldivo keluhkan adalah tidak adanya rincian harga di bon saat dia membayar makanan yang dipesannya.
"Saat bayar saya ditanya nambah apa, saya bilang kerupuk, kemudian pemilik rumah makan langsung menjumlah Rp225.000 tanpa ada rinciannya.
Setelah saya keluar saya nanya kepada pengunjung lain, ternyata itu rumah makan yang viral kemarin," ucap dia.
Bagus Aldivo mengaku, sudah enam kali mengunjungi Telaga Sarangan, bahkan sempat menginap selama enam hari di salah satu hotel di Sarangan.
Selama itu pula, dia tidak pernah bermasalah dengan harga makanan di rumah makan lainnya.
Dia berharap, tidak ada lagi pengunjung Telaga Sarangan mengalami hal seperti yang dia alami.
"Semoga kejadian ini tidak dialami oleh pengunjung lainnya," kata Bagus Aldivo.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Magetan, Joko Trihono, pun memberikan penjelasan mengenai kejadian ini.
Ia mengatakan, pihaknya sudah melayangkan surat peringatan melalui PHRI yang menaungi pengusaha restoran dan rumah makan di Telaga Sarangan.
Hal itu menindaklanjuti video viral berisi keluhan wisatawan Telaga Sarangan pada harga makanan di tempat wisata tersebut.
Dia berharap, rumah makan yang ada di Telaga Sarangan menjual makanan dengan harga wajar.
"Kami sudah berikan surat pembinaan kepada PHRI dan PHRI sudah meneruskan kepada yang bersangkutan.
Kita harapkan rumah makan yang ada di Sarangan menjual dengan harga wajar," ucapnya.
Joko Trihono berharap, wisatawan di Telaga Sarangan juga memastikan menu dan harga yang disajikan rumah makan.
"Kita harap pengunjung memastikan harga yang tertera di menu, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali," tandasnya.