TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) dan Dinkes Samarinda sudah melakukan langkah-langkah untuk mendeteksi masuknya super flu ke Kaltim.
Dinkes Kaltim sendiri memastikan hingga awal Januari 2026 belum ditemukan kasus super flu di wilayah Kaltim.
Meski demikian, kewaspadaan dini tetap diperketat menyusul masuknya varian baru influenza ke Indonesia.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan pihaknya terus memantau perkembangan situasi dan menyiagakan seluruh fasilitas layanan kesehatan.
Baca juga: Super Flu Masuk Indonesia: Ini Gejala, Cara Penanganan, dan Sebaran Kasus di 8 Provinsi
“Sampai dengan hari ini belum ada laporan. Namun kita tetap waspada, terutama terkait perjalanan luar negeri,” ujar Jaya, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, mobilitas dari luar negeri, khususnya dari Amerika Serikat, memang menjadi perhatian karena di wilayah tersebut dilaporkan terdapat cukup banyak kasus.
Oleh karena itu, Dinkes Kaltim terus berkoordinasi dengan Balai Karantina Kesehatan di Provinsi Kalimantan Timur, termasuk di Balikpapan dan Samarinda.
Super flu sendiri merupakan sebutan untuk varian baru influenza A (H3N2) subclade K.
Gejalanya umumnya mirip dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.
Menurut Jaya, secara klinis gejala super flu tergolong ringan.
Namun, dibandingkan flu biasa, durasi sakitnya cenderung lebih panjang.
"Cuma memang kalau dibandingkan dengan common cold atau flu biasa ini mungkin lebih panjang ya, mungkin sekitar antara 10 sampai 14 hari, sementara flu biasa, kata dia, berlangsung antara 7 sampai 10 hari," jelasnya.
Ia menambahkan, upaya mitigasi sudah dilakukan melalui skrining serta pengambilan sampel influenza di fasilitas kesehatan.
Jaya juga menegaskan bahwa istilah super flu pada dasarnya hanya penyebutan populer.
Baca juga: Influenza A Bukan Flu Biasa, Ini Gejala dan Bahaya yang Perlu Diwaspadai
"Dia menyebut istilah super flu sebenarnya hanya penyebutan saja, padahal virusnya adalah H3N2 dengan sub-kelas K. Artinya ada mutasi baru, tetapi mutasinya ringan, tidak berat."
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kaltim menganjurkan masyarakat yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mendapatkan vaksin influenza.
Menurut Jaya, vaksin influenza yang tersedia di klinik-klinik vaksinasi sudah cukup untuk memberikan perlindungan.
"Virusnya hampir sama, yaitu influenza A, B, C, D, yang dapat diantisipasi dengan vaksinasi."
"Itu bisa kita lakukan di beberapa klinik-klinik vaksinasi. Ini bukan vaksin yang diwajibkan, tapi pilihan," pungkas Jaya.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan adanya lonjakan kasus atau wabah terkait varian influenza A (H3N2) subclade K, yang belakangan ramai diperbincangkan sebagai penyakit Super Flu.
Demikian dibeberkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Dia menjelaskan bahwa istilah "Super Flu" sejatinya tidak dikenal dalam terminologi medis formal.
Fenomena tersebut secara klinis masuk ke dalam kelompok Influenza-Like Illness (ILI), yaitu sekumpulan penyakit dengan gejala yang menyerupai flu pada umumnya.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat, Ismed menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pengamatan pola penyakit melalui sistem surveilans yang ketat, khususnya terhadap Penyakit Infeksi Emerging (PIE).
"Dinas Kesehatan memiliki sistem surveilans untuk mengamati pola penyakit. Hingga saat ini, laporan dari surveilans tidak menunjukkan adanya peningkatan kasus yang hebat atau tanda-tanda menuju wabah di Samarinda," ujar saat dikonfirmasi TribunKaltim.co via sambungan telepon WhatsApp pada Jumat, (2/1/2026).
Ia menambahkan bahwa pengawasan dilakukan secara menyeluruh terhadap berbagai penyakit menular, mulai dari demam berdarah hingga infeksi bakteri lainnya.
Khusus untuk kasus influenza di Samarinda, pantauan tim surveilans masih menunjukkan kondisi yang terkendali tanpa ada anomali yang signifikan.
Secara nasional, berdasarkan data genome sequencing terhadap 348 sampel dari 843 spesimen positif influenza, tercatat Influenza tipe A/H1: 152 kasus (44 persen) dan Influenza tipe A/H3: 172 kasus (49 persen).
Dari total tipe A/H3 tersebut, sebanyak 62 kasus (36 persen) diidentifikasi sebagai subclade K.
Meski varian ini telah terdeteksi di beberapa wilayah melalui pengujian laboratorium, Ismed mengimbau warga Samarinda untuk tetap tenang namun waspada.
"Intinya di Samarinda belum ada laporan lonjakan dari tim surveilans penyakit. Kami terus memantau pola penyakit menular agar jika ada potensi wabah, bisa segera dimitigasi," pungkasnya. (TribunKaltim.co/ Raynaldi Paskalis/ Gregorius Agung Salmon)