TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Curah hujan masih bertahan di Kabupaten Pelalawan sepanjang Desember 2025.
Namun hingga kini belum berpotensi menjadi ancaman bencana hidrometeorologi.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh debit air Sungai Kampar yang belum mengalami peningkatan signifikan.
Berdasarkan pemantauan Selasa (23/12/2025), elevasi Sungai Kampar berada di angka 1,98 meter di atas normal, sama seperti sehari sebelumnya.
Pengukuran dilakukan di jembatan penyeberangan ponton Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan.
Stabilnya elevasi sungai ini disebabkan curah hujan di wilayah hulu yang dilaporkan menurun dalam beberapa hari terakhir.
"Di Pelalawan curah hujan masih bertahan tapi belum kategori ekstrim. Alhamdulillah banjir masih aman," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan M.Si kepada tribunpekanbaru.com, Selasa (23/12/2025).
BPBD Pelalawan menetapkan lima titik rawan banjir tahunan akibat luapan Sungai Kampar.
Petugas ditempatkan di masing-masing lokasi untuk memantau kondisi dan pergerakan air setiap hari.
Lima titik tersebut meliputi:
Kelima wilayah tersebut merupakan daerah yang biasanya terdampak pertama kali saat banjir tahunan melanda Pelalawan karena berada di dataran rendah dan tepat di tepi Sungai Kampar.
"Sampai hari ini belum ada genangan air. Kondisinya masih sama dari kemarin dan nihil banjir," papar Zulfan.
Potensi banjir dinilai semakin kecil karena kondisi waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang di Kabupaten Kampar masih stabil.
Hingga saat ini, pengelola PLTA belum berencana membuka pintu air dan melepas air ke hilir.
"Mudah-mudahan banjir tahun ini tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Jadi aktivitas masyarakat selama Nataru tidak terganggu," pungkasnya.
Sebelumnya, BPBD Pelalawan juga memastikan bencana hidrometeorologi belum mengintai wilayah Pelalawan meskipun curah hujan meningkat hingga Senin (22/12/2025).
Bencana hidrometeorologi sendiri merupakan bencana alam yang dipicu faktor cuaca, iklim, dan air, seperti hujan lebat, angin kencang, banjir, longsor, kekeringan, hingga gelombang ekstrem.
Intensitas hujan yang tinggi memang menyebabkan kenaikan debit Sungai Kampar dengan peningkatan tinggi muka air sekitar 3 hingga 10 sentimeter per hari. Namun kondisi tersebut belum menyebabkan banjir di wilayah bantaran sungai.
"Hari ini elevasi Sungai Kampar mencapai 2 meter kurang dikit atau 1,98 meter di atas normal. Pada posisi ini masih aman," terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Novri Wahyudi kepada tribunpekanbaru.com, Senin (22/12/2025).
Dari hasil pantauan BPBD, wilayah bantaran Sungai Kampar yang rawan terendam banjir seperti Kelurahan Langgam, Desa Rantau Baru, Desa Kuala Terusan, serta Kelurahan Pelalawan masih dalam kondisi aman.
"Berdasarkan pengalaman, jika elevasi Sungai Kampar mencapai 2,6 meter mulai muncul banjir di wilayah bantaran sungai," papar Zulfan.
Wilayah yang pertama kali terdampak biasanya Dusun Muaro Sako di Kelurahan Langgam, kemudian meluas ke Desa Rantau Baru dan Kuala Terusan di Pangkalan Kerinci.
Rumah-rumah di pinggir sungai mulai dikepung air, termasuk di Kelurahan Pelalawan yang biasanya terdampak hingga pekarangan warga.
Meski demikian, sebagian besar rumah warga dibangun berpanggung sebagai antisipasi banjir tahunan.
Dampak selanjutnya biasanya terjadi di Jalan Lintas Timur Desa Kemang.
"Debit air mencapai 3 meter lebih, Jalintim Kilometer 83 sudah mulai terendam sekitar 10 Cm. Itu perhitungan di lapangan dari pengalaman sebelumnya," tandas Zulfan.
Zulfan menegaskan, kondisi banjir saat ini masih aman karena belum adanya pembukaan pintu air waduk PLTA Koto Panjang, sehingga kenaikan elevasi Sungai Kampar belum signifikan.
(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung).