Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Solo Safari tampil dengan wajah baru sejak diluncurkan tahun 2023 silam.
Namun, meski kini asetnya dikelola oleh anak perusahaan Taman Safari Indonesia, PT. Kelola Taman Wisata (PT. KTW), Perumda Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang merupakan BUMD Kota Surakarta tetap dipertahankan keberadaannya.
PT. KTW menjalin kerjasama dengan Perumda TSTJ sebagai pemilik aset lahan dan ijin konservasi. Hal ini sesuai dengan Perda Kota Surakarta Nomor 15 Tahun 2017 tentang Pendirian Perumda TSTJ.
“Dipertahankan yang masih ada berkaitan dengan fungsi administrasi konservasi harus dijalankan TSTJ. Dokter hewannya melapor ke BKSDA. Yang dipertahankan sesuai fungsinya,” jelas Direktur Perumda Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Achmad Syukri Prihanto, saat ditemui di kantornya, Rabu (20/8/2025).
Sejak aset diserahkan pengelolaannya ke Solo Safari, Perumda TSTJ melakukan PHK kepada sekitar 80 karyawannya dan menyisakan 4 orang.
Mereka yang tersisa ini bertugas mengurusi masalah administrasi konservasi hingga kesejahteraan hewan di Solo Safari.
“Karena tidak berfungsi sebagai manajemen rekreasi, karyawan bagian loket, hiburan, promosi dikurangi. Yang tersisa karyawan manajemen yang mendukung fungsi administrasi konservasi. Dokter hewan dan manajer keuangan,” tutur Achmad.
Menurutnya, mempertahankan Perumda TSTJ dilakukan agar fungsi konservasi tetap berjalan tanpa diintervensi dengan upaya meraih laba bisnis rekreasi.
“Amanat perda konservasi harus dijalankan. Supaya tidak 100 persen menjadi rekreasi. Tetap ada nilai pelayanan publiknya,” tutur Achmad.
Seluruh bangunan yang ada di dalam Solo Safari didanai oleh Yayasan Margasatwa Indonesia yang menghimpun dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai perusahaan.
“CSR terakhir dana hibah dari Yayasan Konservasi Margasatwa Indonesia (YKMI). Tapi bukan berupa uang. Berupa bangunan. Ini hasil hibah. Ada aviary, jembatan, lobi, semua 100 persen dana CSR YKMI. Saya bilang 100 persen semua dana revitalisasi dari hibah dari YKMI,” jelas Achmad.
Meski baru menjalankan bisnis dengan skema baru, Solo Safari menunjukkan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih tinggi ketimbang saat masih di bawah manajemen lama.
Dalam buku “Sang Pelayan” (2021) Direktur TSTJ saat itu Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengatakan, laba bersih pada tahun 2018 senilai Rp 1,487 miliar.
Laba bersih itu naik 37,51 persen dari tahun sebelumnya Rp 1,081 miliar. Capaian di tahun itu menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.
Menurut Perda Kota Surakarta Nomor 15 Tahun 2017 tentang Pendirian Perumda TSTJ pasal 55 ayat 1 huruf c bagian laba untuk pendapatan daerah sebesar 25 persen dari laba bersih yakni sekitar Rp 371 juta.
Sementara itu, di tahun ketiga manajemen baru, kondisi terendah tahun 2024 sudah bisa menyumbang Rp 3,2 miliar melalui Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) tiket masuk, restoran, dan lain-lain.
Solo Safari adalah destinasi wisata edukasi satwa di Surakarta, Jawa Tengah, yang dikelola oleh Taman Safari Indonesia sejak 27 Januari 2023.
Dengan luas 14 hektar, Solo Safari menjadi rumah bagi lebih dari 400 satwa dari 90 spesies.
Pengunjung dapat menikmati pengalaman interaktif dengan berbagai zona yang menampilkan satwa endemik Indonesia serta fasilitas hiburan seperti Paint and Brush, Gokart, Dino Ride, dan Savannah Zipline.
Solo Safari tidak hanya sekedar tempat wisata, tetapi juga pusat konservasi dan penelitian yang berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan satwa liar di Indonesia.
(*)