TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Di sebuah sudut tenang Desa Candirejo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, berdiri sebuah angkringan yang bukan sekadar tempat makan.
Namanya Angkringan Baloeng Gadjah, namun kisah di baliknya dinilai lebih besar daripada sekadar sajian kuliner.
Di balik meja kayu dan aroma nasi bakar tersebut, terdapat sosok Agus Suprapto, pendiri angkringan yang menjadi penggerak semangat warga desa.
Angkringan tersebut bukan hanya menyajikan makanan khas rumahan, namun juga menghadirkan kisah pemberdayaan masyarakat yang menginspirasi.
Agus memutuskan meninggalkan dunia distribusi dan perumahan untuk membangun usaha kuliner di tanah kelahirannya.
Sejak didirikan pada 2019, Angkringan Baloeng Gadjah telah berkembang menjadi salah satu destinasi kuliner sekaligus ruang kolaborasi sosial yang unik.
“Bisnis ini saya bangun bukan semata karena ingin berjualan makanan.
Saya ingin menciptakan sesuatu yang bisa menghidupi banyak orang,” kata Agus kepada tribunjateng.com, Kamis (15/5/2025).
Konsep angkringan tersebut nampak dibanding pada umumnya.
Seluruh bahan baku yang digunakan, meliputi beras, gula, minyak, hingga bumbu dapur, dibeli dari warung-warung milik warga sekitar.
Sementara, seluruh hidangan yang disajikan merupakan hasil olahan ibu-ibu rumah tangga di desa.
Setiap harinya, sekitar 60 warga secara bergiliran menyetor masakan rumahan mereka ke angkringan ini.
“Dulu banyak yang belum berani berjualan, namun setelah bergabung, dagangannya laris. Sekarang beberapa di antaranya sudah buka warung sendiri,” imbuh dia.
Menu yang disajikan pun beragam, mulai dari nasi bakar, mangut, rawon, cumi lada hitam, hingga sate dan gorengan hangat.
Tak hanya itu, suasana khas perdesaan yang ditawarkan menambah daya tarik tersendiri.
Hamparan sawah, latar pegunungan, serta pemandangan matahari terbenam membuat tempat ini cocok sebagai lokasi kuliner sekaligus wisata alam.
“Kami ingin menciptakan tempat yang bukan hanya menyenangkan lidah, tapi juga menyenangkan hati.
Tempat untuk berkumpul, beristirahat, dan menikmati keindahan desa,” lanjut dia.
Angkringan itu juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung agar pengunjung betah berlama-lama.
Terdapat area duduk yang nyaman, ruang terbuka untuk anak bermain, serta spot-spot estetik yang cocok untuk berswafoto.
Dalam waktu dekat, Agus mengaku, tengah mempersiapkan pengembangan wisata edukasi, outbound, dan agrowisata petik buah sendiri.
Pandemi Covid-19 sempat membuat usahanya harus tutup sementara.
Namun, sejak dibuka kembali dengan konsep new normal, Angkringan Baloeng Gadjah justru semakin ramai dikunjungi.
Pengunjung datang dari berbagai kalangan, baik warga lokal maupun wisatawan luar daerah.
Bagi Agus, keberhasilan tersebut bukan semata tentang omzet atau jumlah pengunjung.
“Bagi saya, keberhasilan itu ketika usaha ini memberi manfaat.
Saat warga merasa terbantu, percaya diri, dan mulai mandiri, di situlah kepuasan sebenarnya,” pungkas dia.
Seorang warga Bergas, Kabupaten Semarang, Erwin Khusnul, mengaku bahwa Baloeng Gadjah menjadi satu-satunya tempat mampir seusai bekerja di lapangan.
Menurut dia, apa yang disediakan sangat mendukung untuk beristirahat sejenak sambil menuntaskan pekerjaannya.
“Biasanya saat bekerja di sekitar Tuntang, saya sempatkan mampir di sana.
Selain bisa sekalian makan dan istirahat, bisa untuk bekerja karena tersedia banyak colokan listrik untuk mengoperasikan laptop atau ponsel,” ungkap Erwin. (*)